Recent Posts

Minggu, 25 Maret 2012

Melihat Kepentingan Apa Yang Kita Makan




Sampai saat ini saya masih merasa kesulitan untuk menemukan cara yang pas bila saja suatu ketika saya harus bernegosiasi dengan anak saya yang masih berumur enam tahun, ketika dia mengajak saya untuk mampir makan di restoran cepat saji yang hampir selalu ada di setiap mall-mall di kota besar. Dengan sajian khas berupa burger, kentang atau fried-chicken. Terutama bagi anak-anak, cita rasa menu mereka memang mengundang selera. Dan hampir selalu menawarkan gift-gift paket mainan menarik yang selalu baru.

Kira-kira bentuk penjelasan seperti bagaimana yang harus saya sampaikan kepada anak saya? Apakah karena makanan-makanan itu tidak memiliki nilai gizi yang optimum bagi pertumbuhan? Ataukah karena harga makanan itu yang sebenarnya tidak sepadan bagi nilai tambah kesehatan bagi tubuh kita (dalam arti bahwa kalau ‘hanya' butuh makan, harga segitu masih membuka banyak kemungkinan untuk mendapatkan makanan yang jauh lebih bermanfaat bagi tubuh)? Ataukah mencoba memberi penjelasan bahwa yang dikatakan diiklan-iklan itu sebenarnya tidak selalu mencerminkan keadaan sesungguhnya, bahwa apa yang disampaikan di iklan adalah dalam rangka persuasi untuk sekedar membeli produk mereka?

"..kalau begitu,..mereka bohong dong, Pa..?" kata anak saya menimpali. Sampai di sini, kembali saya tidak bisa menemukan kata-kata yang pas untuk memberi penjelasan lebih lanjut secara logis. Mungkin urusan dunia ini -baca : urusan orang dewasa- sudah terlalu rumit bagi usianya. Kita sebagai orang tua tidak bisa lagi membuat potret kejadian-kejadian yang begitu abu-abu di tengah-tengah kita, menjadi sebuah kepolosan hitam-putih sehingga dengan jujur dapat kita jelaskan kepada anak-anak kita apa yang sebenarnya terjadi.

Kembali pada urusan makan. Apa yang saya coba utarakan dengan ilustrasi cerita saya bersama anak saya di atas adalah, bagaimana kita sebagai manusia ini, dari kurun waktu ke waktu semakin tidak efisien. Secara teori kita mengerti apa itu efisiensi, berusaha menggagas bagaimana meningkatkannya, dalam kehidupan ekonomi, bisnis, dunia usaha. Tapi lihatlah, bila gambaran besar itu kita tarik di kepala kita, secara kolektif kita justru semakin tidak efisien.

Kita coba tarik secara ekstrim. Dahulu sekali, dalam masyarakat tradisional, urusan makan memakan akan selalu menghasilkan sampah organik, yang bila dibuang ditimbun di tanah akan selalu terurai, membusuk dan memutar kembali siklus ekosistem rantai makanan kehidupan. Sehingga bisa dikatakan tak ada sampah yang terbuang untuk kepentingan perut manusia.

Tapi lihatlah sekarang. Informasi yang ada di kota Jakarta misalnya, saat ini rata-rata satu warga Jakarta menghasilkan dua kilogram sampah setiap harinya! Dan sedihnya, sekitar 51% dari sampah itu adalah sampah non-organik. Sampah yang tidak bisa diproses kembali. Kebanyakan berupa plastik dan kertas pembungkus makanan! Hmm, lagi-lagi urusan perut!

Kita coba renungi, untuk urusan perut ini, dan demi mengimbangi kemajuan teknologi bagi manusia yang menjadi super sibuk ini, banyak ditawarkan solusi-solusi. Maunya demi efisiensi, tapi berkembang menjadi sesuatu hal yang seperti saya utarakan di atas. Karena kesibukan manusia, dicipatakan solusi makanan cepat saji, sehingga dibuat wadah plastik, sendok plastik sekali pakai, bungkus plastik. Demi sebuah alasan higienis, dibuat pembungkus-pembungkus makanan yang bisa mengisolasi makanan dari pengaruh mikroorganisme lingkungan. Dengan konsekuensi justru pembungkus ini tidak bisa diurai ketika menjadi sampah.

Demi memanjakan manusia yang sudah diburu tuntutan kehidupan, dibuatlah banyak macam ragam jenis makanan dengan variasi rasa dan harga. Muncullah kebiasaan orang beli ini beli itu hanya sekedar ingin merasakan, menyisakan sebagian besar makanannya untuk dibuang. Juga menjadikan manusia mengeluarkan uang jauh lebih banyak dari sekedar manfaat untuk mengatasi rasa lapar, dan memberi nutrisi dan gizi yang cukup bagi tubuh.

Ada baiknya kita mulai mencoba merubah apa dan bagaimana kita makan. Tidak sekedar memenuhi rasa lapar, tapi juga melihat pentingnya. Kita coba tularkan kebiasaan ini kepada anak-anak kita dan orang-orang disekitar kita. Saya mendengar bahwa rata-rata usia cenderung semakin muda atas mulai munculnya gejala penyakit gula, kolesterol tinggi, asam urat. Mungkin juga karena kebiasaan pola makan kita...

0 komentar:

Posting Komentar